Mar 19, 2015

Surat Untuk Sahabatku, yang Masih Berjuang Demi Meraih Gelar Sarjana (Diri Gw Sendiri)

“Hai sahabatku disana, bagaimana kabarmu disana? Sehat?
“Sekarang sedang sibuk apa?”


Ah! Terlihat basa-basi sekali? Namun itulah yang sanggup aku tanyakan kepadamu. Menanyakan kabarmu, kesehatanmu, dan kegiatanmu saat ini. Mungkin kau akan lebih nyaman jika aku bertanya seperti itu, daripada aku harus menanyakan


“Bagaimana skripsimu?”
“Sudah sampai bab berapa?”
“Kapan wisuda?”

Maaf jika pertanyaan-pertanyaan pendek ini terasa mengganggu perasaanmu. Tapi aku punya kewajiban bertanya, sebagai sahabatmu.

Karena aku tahu pasti apa yang sedang engkau pikirkan dan rasakan. Aku tahu, engkau tak akan senang jika kutanya demikian. Karena aku tahu, hal tersebut tak lantas membuat skripsimu selesai dalam sekejap mata.

Seperti hal-nya kamu, aku-pun pernah mengalami hal yang sama. Aku malas menjawab pertanyaan semacam itu ketika masih berkutat dengan skripsi. Bahkan jika yang bertanya adalah orangtuaku sekalipun. Pasti hanya akan kujawab dengan seutas senyum kecut sambil berkata:

“Iya ini lagi proses ngerjain bab 1 & 2 susah banget”
“Revisi bab 1 udah lima kali, bab 2 Proses, tapi belum bener juga, minta doanya supaya cepat selesai ya…”
Skripsi memang merupakan momok yang paling berat bagi kita para mahasiswa tingkat akhir. Tak jarang banyak mahasiswa yang mesti mengajukan perpanjangan skripsi, karena memang pekerjaan satu ini memiliki beban yang cukup berat daripada hanya menghafal teori.

Apa sebenarnya yang membuatmu terjebak begitu lama? Aku hanya bisa menduga tanpa berani bertanya, karena aku tahu bagaimana rasanya.

Revisi tiada henti

Meski begitu, jujur aku penasaran dengan apa yang membuatmu tak kunjung menghadapi sidang.  Namun aku malas bertanya, karena jika sedikit disinggung mengenai skripsi kau pun seakan malas menjawab. Lambat laun aku pun menjadi sadar bahwa kau tak suka jika ditanya demikian.

Aku tak ingin berlagak seperti kebanyakan orang yang seakan “peduli” denganmu. Menanyakan kabar skripsi, maupun menanyakan kabar penelitian dan data yang sedang engkau tekuni. Aku hanya bisa mengajakmu mengobrol, berbicara, maupun bercanda seperti biasa. Karena toh kepedulian tak mesti harus diutarakan dengan pertanyaan-pertanyaan basi.

Coba sini duduk di sisiku. Berceritalah — terlalu rumitkah materi skripsimu? Atau dosenmu yang terlalu banyak minta revisi ini-itu?

Kita semua memang manusia yang tak akan pernah sama. Begitu pula dosen pembimbing, mereka memiliki tipe kepribadian dan standar diri masing-masing. Ada dosen yang mudah diajak kerjasama, namun tak sedikit pula dosen yang konservatif serta alot.
Yang pasti, turuti saja apa kata dosenmu, catat, atau perlu kamu rekam segala instruksi-nya. Kamu bisa menunjukkan catatan-catatan di kegiatan bimbinganmu saat ini untuk kemudian ditunjukkan kepada sang dosen di bimbingan selanjutnya. Bahkan ketika kamu mesti berkutat dengan skripsi dan data, kamu harus bisa meyakinkan diri bahwa kamu MAMPU.

Aku pun pernah mengalaminya. Skripsiku sempat kuanggurkan sekian lama. Semangat untuk jadi sarjana pernah menguap begitu saja ke udara.

Tak apa jika ternyata kau khilaf, aku-pun pernah merasakannya. Tiga bulan lamanya setelah judul-ku diterima, aku sama sekali belum menyentuh bab satu sekalipun. Santai, terlalu santai, hingga aku lupa akan tanggungjawab, mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan keadaanku waktu itu.

“Ah, nanti saja-lah”

Begitu-lah kata yang sering terlontar di dalam batinku. Godaan-godaan yang saking banyaknya memang tak kuasa kubendung. Semuanya menjebol benteng pertahanan yang kumiliki. Siang sibuk Internetan hingga petang, dilanjutkan main game sampai pagi menjelang, setelah itu baru tidur hingga siang datang.

Jangan hiraukan suara-suara sumbang yang mungkin membuatmu pilu, kuatkan tekad dan tunjukkan bahwa kamu mampu.




“Nak, kamu kapan lulus? Itu anaknya Bu Eksis tetangga sebelah kita udah wisuda minggu lalu lho. Cumlaude lagi!”


Tegarkan hati-mu anggap saja kata-kata itu hanya sebagai angin lalu. Mungkin orangtuamu hanya tak bermaksud menyinggung, hanya saja dia ingin minta kejelasan dari-mu. Sejauh mana kamu telah melaksanakan tanggungjawabmu?

Maka dari itu, seberapa buruk hasil laporan-mu, tetapkanlah tujuan untuk selalu bertemu dosen, minimal dua minggu sekali. Karena dengan begitu, kamu akan selalu dapat bimbingan dan pencerahan. Jangan pernah takut akan penolakan yang mungkin kamu hadapi, karena rasa takut tersebut hanya akan menggunung dalam pikiranmu dan membuatmu tak bisa melangkah maju.

Aku tak bermaksud menasihati. Hanya saja dunia luar lebih keras dari tantangan skripsi yang sedang kau hadapi. Selesaikan dulu kewajibanmu saat ini, kawan. Masa depan menanti.

Kekhawatiran tentang sulitnya mendapatkan kerja memang tak henti menghantui setiap sarjana muda. Sempitnya lapangan kerja yang tersedia, sementara masih banyak mahasiswa di luar sana yang belum mendapatkan kerja mungkin akan membuatmu sedikit banyak berkecil hati. Yang bisa kusarankan adalah jangan terlalu peduli dengan semua hal itu, karena hanya akan menurunkan semangatmu. Selesaikan dulu kuliahmu, baru kamu bisa berpikir tentang apa yang akan kamu lakukan setelahnya.
Apapun rintangan yang kamu temui tak seharusnya menghambat perjuanganmu menyelesaikan skripsi. Karena sesungguhnya skripsi bukanlah akhir, namun justru dia merupakan awal dari segala-nya. Perjuangan selanjutnya adalah bagaiamana agar kamu bisa mendapatkan pekerjaan nanti-nya.
SEMANGAT!
Wisuda di depan mata

http://www.hipwee.com/motivasi/surat-untuk-sahabatku-yang-belum-kunjung-meraih-gelar-sarjana/

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment